Arigato, Gus Dur Sensei!

sumber: www.berdikari.net

Yogyakarta, 20/10/2015

Hisanori Kato bukan serdadu Jepang yang hidup di zaman Perang Dunia II. Apalagi seorang ninja assassin yang sedang menjalankan misi rahasia untuk memata-matai klan lawan. Kenapa saya begitu yakin? Karena ia tak datang ke Indonesia pada tahun 1942-1945, dan ia juga tak mirip dengan sosok Raizo (Rain) yang pendiam dan mematikan seperti dalam film Ninja Assassin (2009).

Hisanori Kato adalah pengajar cum peneliti asal Jepang, yang pada tahun 1991, untuk pertama kalinya ia menginjakkan kakinya di Indonesia. Pada awalnya, Kato datang ke negeri komodo ini hanya untuk mengajar di salah satu sekolah internasional di Jakarta. Tapi semenjak ia menemukan kejanggalan-kejanggalan pada perilaku mayoritas orang Indonesia, seperti beribadah lima kali sehari, tidak makan berjam-jam, tidak mengonsumsi babi dan tidak hobi mabuk-mabukan; lantas ia memutuskan untuk mempelajari lebih dalam agama yang menjadikan mereka seperti itu: Islam.

“Bagi saya yang biasa makan dan minum di setiap waktu istirahat, itu (puasa) hal yang tidak masuk akal,” tulis Kato, dalam bukunya Islam di Mata Orang Jepang. Kato menganggap segala yang dilakukan oleh masyarakat Islam adalah sesuatu yang aneh, sebab ia sangat jarang menemui hal-hal tersebut baik ketika ia berada di Jepang maupun di Amerika.

Ketertarikannya pada Islam yang lain ialah karena ia melihat posisi “agama” dalam kehidupan masyarakat di Jepang dan Indonesia sungguhlah lain. Di Jepang, sebatas berbicara soal agama masih dianggap tabu di masyarakat, kecuali hanya dalam konteks tertentu saja.  Sementara di Indonesia, agama telah memainkan peranan sentralnya di tengah kesibukan dan hiruk-pikuk masyarakat. Bahkan, agama (Islam) memiliki kekuatan untuk menyatukan banyak orang dan memberi keberanian pada segala jenis ketakutan apapun.

Yang terakhir ini yang membuat Kato terheran-heran. Selama tiga tahun pertama (1991-1994) ia berada di Indonesia, pemerintahan masih dipegang oleh kekuatan militer di bawah kendali Presiden Soeharto. Awalnya ia agak kaget ketika melihat berbagai fenomena di masyarakat yang cenderung mencekam. Kato merasa aneh saat melihat tingkah laku orang Indonesia yang enggan membicarakan politik dan ikhwal pemerintahan di tempat umum. Ditambah lagi adanya aturan yang melarang penggunaan huruf Kanji (huruf yang digunakan dalam Bahasa Jepang; berasal dari Tiongkok) oleh siapapun. Padahal, penggunaan huruf Kanji maupun kritik pada pemerintah (perdana menteri, presiden, rezim) merupakan hal yang wajar di banyak negara.

Kato terheran-heran, karena dalam rezim Orde Baru yang begitu kuat cengkraman Presiden Soeharto itu, ada sejumlah mahasiswa yang berani “melawan” dengan melakukan demonstrasi di depan gedung DPR hingga berhasil merangsek masuk. Para demonstran muslim itu menentang sosialisasi Sumbangan Dana Sosial Berhadiah (SDSB) yang marak pada awal tahun 90’an. Mereka menganggap adanya asas perjudian di dalamnya, yang mana hal itu dilarang dalam Islam. Itulah yang dimaksud Kato bahwa agama (Islam) mampu menyatukan dan memberi keberanian bagi para pemeluknya.

Berangkat dari fenomena tersebut, Kato yang kebetulan masih bingung memikirkan jurusan untuk sekolah pascasarjananya akhirnya menemukan titik terang. “Agama Islamlah yang mulai mendapat tempat di hati saya,” ungkapnya.

Tiga tahun berlalu di Indonesia, Kato memutuskan hijrah ke Australia. Setelah bertahun-tahun menjadi pengajar, kini ia mulai lagi belajar. Kato diterima di Universitas Sidney sebagai mahasiswa pascasarjana. Di sana ia tak belajar Islam, melainkan metode yang bisa dipakai untuk mengupas Islam. Ia masuk di fakultas yang khusus mempelajari segala agama, bukan dari aspek teologis, namun lebih kepada multidisiplin. Pada akhirnya, perspektif sejarah, sosiologi dan antropologilah yang kelak akan Kato bawa kembali ke Indonesia untuk mengupas Islam yang masih terselimut kelambu ketidaktahuannya itu. Australia menjadi tempatnya berlabuh, mengingat majunya penelitian tentang Indonesia yang berkembang di sana.

Tahun demi tahun berlalu. Di Universitas Sidney, Kato bertemu dengan Profesor Garry Trompf. Sejak pertemuanya dengan Profesor Trompf, Kato tak hentinya mendapat motivasi darinya. Bahkan, keputusan Kato untuk melanjutkan program doktor setelah mendapatkan gelar masternya, juga merupakan pengaruh dari profesor idolanya tersebut.

“Mengapa Anda menyembunyikan identitas Anda sebagai orang Jepang? Sebagai orang Jepang Anda melihat Indonesia dan meneliti tentang Islam di Indonesia. Anda orang Jepang, penganut Buddha, lalu tinggal di Australia, bisa berbicara Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan Bahasa Jepang. Itulah Anda. Manfaatkanlah semaksimal mungkin dan sebaiknya lanjutkan penelitian Anda!” begitulah motivasi Profesor Trompf suatu hari. Kato yang awalnya sering pesimis mengingat posisinya sebagai outsider, kini begitu yakin dengan apa yang dihadapinya.

Sejak saat itu, Kato memfokuskan penelitiannya pada hubungan agama dan masyarakat di Indonesia. Ia juga menulis disertasinya terkait hubungan demokratisasi Indonesia dan Islam. Dari sanalah ia mulai banyak turun ke lapangan untuk mencari berbagai data. Di lapangan, Kato kelak akan berjumpa, berdialog dan belajar pada banyak orang Muslim Indonesia yang multi-faces itu.

****

Dalam bukunya, Islam di Mata Orang Jepang, Kato bercerita panjang lebar tentang perjumpaannya dengan beberapa tokoh Islam Indonesia. Ia banyak mengambil pelajaran tentang Islam dari mereka. Sebagai seorang peneliti, Kato San selalu mencoba meredam prasangka-prasangka yang muncul, baik ketakutan maupun rasa curiga pada orang-orang tertentu, seperti ketika ia ingin menemui Eka Jaya dari FPI (Front Pembela Islam), Lily Munir yang seorang feminis atau Abu Bakar Ba’asyir yang terkenal begitu fundamental.

Kato pun berhasil. Prasangka miring yang seringkali muncul itu ternyata tiada yang benar. Eka Jaya tak segarang yang dipikirkan Kato. Di luar dugaan, Eka sangat ramah pada Kato. Pintu rumahnya selalu terbuka lebar untuk orang Jepang itu. Bahkan Eka pernah mengkhawatirkan Kato ketika ia pulang kemalaman setelah wawancara. Eka pun menyuruh temannya yang kebetulan searah dengan rumah Kato di Jakarta untuk menemaninya pulang. Ia juga memberi Kato sebuah pin berlogo FPI untuk “menjaganya” agar selamat sampai tujuan. “Kalau pakai ini bagus lho! Anda tidak akan diserang oleh pencuri atau pun perampok,” kata Eka. Entah ia serius atau hanya sekadar berkelakar, yang jelas keramahan Eka Jaya menjadi ingatan tersendiri bagi Kato. Eka yang asli betawi itu pun dipanggilnya “abang”, sebagai bentuk keakraban Kato padanya.

Begitu pula Lily Munir. Meski ia seorang feminis yang sangat aktif, Lily tak pernah serta merta “menyerang” laki-laki dengan argumennya yang seakan menentang diskriminasi secara membabi buta. Kesan seperti itu langsung luntur tatkala Kato disambut hangat oleh Lily untuk pertama kalinya. Bahkan Kato belajar banyak dari Lily tentang agama Islam yang pada dasarnya sangat mengayomi perempuan. Kato juga mendapat pandangan baru perihal poligami dalam Islam. Bahwa apa yang banyak dipahami oleh orang awam (non-Muslim) kebanyakan ternyata salah. Lily menjelaskan jika poligami hanya diperbolehkan jika seorang laki-laki itu dalam kondisi atau telah memenuhi syarat tertentu saja.

Di posisi lain, Kato yang non-Muslim itu juga takut diperlakukan secara “dingin” oleh orang-orang Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), ketika ia ingin bertemu dengan pemimpinnya: Abu Bakar Ba’asyir. Namun, ketika Kato mengunjungi Abu Bakar Ba’asyir di pesantrennya di Solo, suasana menjadi lain. Di kediamannya tersebut, Kato bisa mengobrol banyak dengan Abu Bakar Ba’asyir bahkan hingga melebar ke masalah keluarga.

Kiai di Pesantren Al-Mukmin Solo itu juga sempat mengajak Kato untuk masuk Islam, untuk kembali ke fitrah-nya. Lantas ia menambahkan, “Tetapi, Anda jangan salah paham. Saya tidak bermaksud memaksa Anda untuk beralih ke agama Islam. Tidak boleh ada pemaksaan dalam beragama. Ini adalah salah satu ajaran dalam agama Islam.” Kato pun belajar makna Islam pada Abu Bakar Ba’asyir. Prasangka negatif yang mengira bahwa Abu Bakar Ba’asyir tidak akan menerima kedatangan Kato sebagai non-Muslim itu pun hilang. Ketika wawancara dirasa cukup, sambil berpamitan Kato bertanya, “Apa boleh saya datang lagi?” Kemudian, dengan wajah yang tenang Abu Bakar Ba’asyir menjawab, “Silakan datang!”

Selain bisa “belajar” Islam secara langsung pada Eka Jaya, Lily Munir dan Abu Bakar Ba’asyir, Kato juga banyak mengambil “pelajaran” keislaman dari tokoh-tokoh lain. Kato belajar Islam sebagai agama yang murah senyum dan pemaaf dari Bismar Siregar. Bismar adalah mantan hakim agung dan pakar hukum ternama Indonesia. Ajaran Islam yang mewajibkan pemeluknya untuk saling memaafkan Bismar buktikan pada Kato dengan mengaku masih “menyayangi Soeharto” meski iklim Indonesia pasca 1998 itu penuh kebencian padanya.

Dari budayawan Mohamad Sobary, Kato belajar Islam sebagai agama yang selalu memuliakan tamu di mana pun berada. Dari Ismail Yusanto, seorang tokoh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Kato belajar Islam sebagai agama yang mewajibkan umatnya untuk selalu menepati janji. Kato juga belajar Islam sebagai agama yang sangat luas cakupannya dari tokoh Islam liberal, Ulil Abshar Abdalla. Sedangkan dari politikus Fadli Zon, Kato belajar Islam sebagai agama yang mampu bangkit melalui jalan politik. Dan yang terakhir, Kato belajar Islam sebagai agama yang menjunjung tinggi persaudaraan dan kesetaraan dari mantan presiden RI, Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

“Di antara sekian banyak pemimpin agama Islam, yang paling banyak saya wawancarai adalah Gus Dur. Namun, wawancara yang resmi hanya yang pertama kali saja, setelah itu hanya berupa obrolan santai antar dua orang,” tulis Kato dalam bukunya. Tidak heran jika dalam tulisannya tersebut, Kato mengungkapkan lebih banyak pengalaman menimba ilmu keislamannya dari sosok Gus Dur. Kato sendiri mengaku, bahwa ia sudah merasa begitu dekat dengan Gus Dur bahkan sebelum bertemu langsung dengannya. Sejak pertama kali Gus Dur membalas surat permohonan wawancaranya, Kato sudah merasakan adanya sambutan positif dari tokoh berpeci itu. “Itulah peristiwa pertama,” ungkap Kato, “yang mengingatkan saya pada kedekatan dengan Gus Dur yang tidak bisa saya perkirakan keramahtamahannya hanya dengan melihat fotonya saja.”

****

Tahun 1996, nama Abdurrahman Wahid alias Gus Dur masih dikenal sebagai Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang mempunyai pengaruh kuat di dunia agama dan perpolitikan Indonesia. Gus Dur adalah satu dari sedikit orang yang berani mengkritisi Presiden Soeharto yang dianggap otoriter. Dua tahun pra-reformasi itu Kato masih di Sidney. Tesis dan disertasinya membahas tentang hubungan antara agama Islam di Indonesia dengan demokratisasi. Untuk itu ia sangat memerlukan banyak data dari berbagai sumber, tak terkecuali dari Gus Dur.

Kato pun mengirim surat pada Gus Dur. Melihat kesibukan Gus Dur yang luar biasa, Kato tak terlalu mengharap surat balasan. Tapi, beberapa minggu kemudian surat balasan itu mendarat juga di Sidney. “Kalau tiba di Jakarta, tolong hubungi nomor ini! Saya menunggu,” tulis Gus Dur. Dengan senang hati Kato segera menyiapkan tiket untuk perjalanan Sidney-Jakartanya.

Mereka bertemu di kantor lama PBNU yang tampak tua dan sederhana. Kato menunggu agak lama di ruang tamu sebelum akhirnya ia bertemu dan langsung berjabat tangan dengan Gus Dur. Topik pertama dalam perjumpaan mereka berbicara tentang hubungan Islam dengan Demokrasi. Dalam pembicaraan itu Gus Dur menyangkal kebenaran dari “benturan peradaban” yang pernah digagas oleh Samuel Huntington. “Yang disebut demokrasi bukan nilai yang hanya ada di Barat, semua agama termasuk agama Islam demokratis, mempunyai nilai atas seluruh umat manusia,” terang Gus Dur.

Kato dan Gus Dur tampak akrab di awal perjumpaannya. Mereka berbicara ngalor-ngidul, mulai dari keinginan Gus Dur untuk membentuk masyarakat Indonesia yang toleran dan luwes, hingga penolakannya pada cara berpolitik Amien Rais yang terkesan memaksa rakyat untuk tunduk pada Islam. Setelah itu percakapan pun selesai. Gus Dur memberi nama dan nomor telepon beberapa relasinya sebagai bahan penelitian Kato lebih lanjut.

“Kalau ada keperluan, kapan saja silakan datang ke sini untuk mengobrol,” ucap Gus Dur menutup percakapan. Kato berpamitan dengan perasaan heran dan sedikit terkejut. Seorang yang baru dikenalnya itu mau meluangkan waktunya dan siap membantu penelitiannya. Penelitian mahasiswa asing yang juga baru dikenalnya.

Beberapa minggu kemudian Kato datang lagi ke kantor PBNU. Saat itu tamu Gus Dur sedang banyak-banyaknya. Setelah mengantri lama, Kato baru dapat giliran bertemu setelah sore hari. Padahal malamnya Gus Dur ada jadwal ceramah di salah satu masjid di Jakarta Utara. Akhirnya malam itu Kato diajak Gus Dur untuk ikut bersamanya.

“Saya tiba di sebuah kota yang rumah-rumahnya berhimpitan dan tidak terlalu mewah,” jelas Kato. Ketika turun dari mobil, Kato harus berjuang dari desakan para jamaah yang berebut menyambut Gus Dur di kiri-kanannya. Di tengah masyarakat kelas menengah (ke bawah) itu Gus Dur memberi ceramah yang begitu menyentuh. Ia berbicara tentang pentingnya masyarakat Islam untuk melindungi dan hidup berdampingan dengan kelompok minoritas, yaitu kelompok agama-agama selain Islam.

Melihat semua jamaah yang tampak mendengar dengan penuh perhatian dan penghayatan, Kato menganggap bahwa Gus Dur memiliki kharisma yang begitu besar. Ia berkata demikian bukan tanpa alasan. Kato lantas membandingkan Gus Dur dengan salah satu muridnya: “Sebagai contoh, Ulil Abshar Abdalla, aktivis Islam liberal muda yang juga murid Gus Dur belum tentu bisa diterima oleh masyarakat layaknya Gus Dur.”

Menurut Kato, Gus Dur memiliki kharisma tersebut tak lain karena dipengaruhi oleh garis keturunannya, baik itu pengaruh kakek maupun ayahnya. Tapi ditengah kuatnya kharisma Gus Dur, Kato menganggap hal tersebut malah menjadi bumerang baginya. “Gus Dur seringkali menyerukan gagasannya tentang pentingnya demokrasi tersebut secara dogmatis,” ujar Kato, “sehingga banyak juga lawan politik yang mengecam sikapnya sebagai tidak demokratis meskipun ide-ide yang dikemukakannya benar.”

Sepulang dari ceramah, Kato dan Gus Dur pulang bersama dalam satu mobil. Gus Dur duduk di depan di samping sopir, sedangkan Kato duduk di belakang sendirian. Di dalam mobil, sambil sesekali menoleh ke belakang, Gus Dur masih terus bercerita tentang keinginan-keinginannya tentang masa depan masyarakat Indonesia. Kato yang terus menyimak ucapan demi ucapan Gus Dur itu akhirnya mengambil beberapa kesimpulan. Menurutnya, Gus Dur selalu menekankan tentang (sangat) pentingnya  saling menghormati dan saling menghargai antar umat beragama di Indonesia. Gus Dur selalu optimis dalam harapannya, bahwa masyarakat mayoritas yang ia sebut “rakyat” itu, suatu saat akan menerapkan sikap toleransi mereka terhadap kelompok-kelompok minoritas.

****

Tiga tahun berlalu sejak Kato pertama kali mengenal Gus Dur. Tahun 1999, menjadi tahun yang banyak merubah sosok Gus Dur dari seorang agamawan menjadi seorang politisi. Gus Dur diangkat menjadi presiden Republik Indonesia ke-4 dengan masa jabatan yang tak selesai: 1 tahun 9 bulan. Banyak faktor yang mempengaruhi diturunkannya Gus Dur dari singgasananya. Mulai dari derasnya kritikan yang datang sebab kunjungan luar negerinya hingga “pertengkaran” kecilnya dengan DPR.

Kato yang sudah sangat akrab dengan Gus Dur, datang mengunjunginya tak lama setelah peristiwa pelengseran itu. Gus Dur bercerita tentang cepatnya reformasi yang terjadi. “Saya tidak punya waktu sedemikian banyak. Jadi, kita perlu segera melakukan reformasi,” ungkapnya. Meski banyak kritik yang berdatangan ketika Gus Dur menjabat sebagai presiden, tapi Kato merupakan salah satu orang yang kagum dengan caranya memimpin.

Kato menunjukkan kekagumannya dengan bercerita, bahwa ketika menjabat sebagai presiden Gus Dur seringkali meluangkan waktunya untuk berbincang dengan masyarakat umum. Gus Dur juga beberapa kali mengajak para demonstran yang melakukan aksi di depan istana untuk masuk ke dalam dan menyampaikan semua aspirasinya. Bahkan ketika kunjungannya ke Jepang, Kato yang saat itu ikut mendampingi sempat heran ketika Gus Dur yang saat itu sedang dikejar waktu, masih sempat meluangkan waktu untuk beramah tamah dengan para mahasiswa Indonesia yang belajar di Negeri Matahari Terbit itu. “Dari situ banyak yang saya pelajari dari Gus Dur terkait dengan sikapnya dalam pergaulan yang tidak pernah membeda-bedakan siapa pun,” terang Kato.

Selain berbicara tentang Gus Dur sebagai politisi, Kato juga menerangkan tentang beberapa pandangan Gus Dur yang paling mendasar. Salah satunya ialah tentang ketidaksetujuan Gus Dur untuk menerapkan sistem syariah pada konteks negara. Menurutnya, agama adalah urusan pribadi, negara mempunyai kekuasaan untuk tidak memberi hukuman kepada penganut agama yang tidak mengikuti ajaran agamanya. Sebab orang yang melakukan pelanggaran (agama) hanya berhadapan dengan Tuhan, bukan pada hukum negara.

Kato akhirnya pulang ke Jepang, setelah ia meraih gelar doktornya di Universitas Sidney. Penelitiannya tentang hubungan Islam dan demokratisasi di Indonesia terbilang sukses. Beberapa buku pun ia terbitkan, baik akademis maupun reflektif, yang mana merupakan hasil perjalanannya di Indonesia selama ini.

September 2009, Kato kembali mengunjungi Jakarta. Dalam kunjungan singkatnya itu, Kato sangat ingin bertemu dengan Gus Dur yang dikabarkan sedang sakit. Setelah mendapat keterangan tentang rumah sakit dan kamarnya, Kato langsung bergegas untuk menjenguk Gus Dur. Dalam obrolan ringannya, Kato mengajak Gus Dur untuk mandi air panas di Jepang setelah ia sembuh. Kato yang ingin menanyakan kepastian perihal kesehatan Gus Dur lantas mulai bertanya:

“Gus, kondisi Anda apa sudah jauh membaik? Apa yang Anda rasa?”
“Ini hanya komplikasi, tetapi sekarang sudah lebih baik,” jawab Gus Dur.
“Kalau begitu, kenapa Anda tidak boleh pulang? Berapa lama lagi Anda diopname?”
“Kira-kira tiga bulan lagi saya harus dirawat di sini.”

Barangkali itulah detik-detik terakhir percakapan Kato dengan Gus Dur. Tiga bulan kemudian, di akhir Desember 2009, Kato mendapat kabar bahwa Gus Dur telah meninggal dunia. Dengan agak terkejut bercampur heran, Kato mencoba menerawang apa yang dimaksud Gus Dur dalam percakapan dengannya ketika di rumah sakit: “Saya pikir apakah waktu itu Gus Dur meramalkan akhir hidupnya sendiri?”

Kedekatan Kato dan Gus Dur selama ini, membuat Kato merasa sangat kehilangan dengan kenyataan tersebut. “Kenyataan ini membuat saya merasa kesepian, terutama ketika berada di Indonesia,” tulis Kato di akhir ceritanya.

****

Sembilan belas tahun melanglang buana meninggalkan Jepang, tujuh tahun di antaranya berada di Indonesia, kini Kato telah mendapat apa yang diinginkannya. Nama Hisanori Kato kini sudah tak asing lagi di Butsuryo College of Osaka, Jepang. Ia menjadi profesor sekaligus pengajar di sana. Beberapa prestasi ia raih setelah lamanya penelitian yang ia lakukan dalam mengkaji Islam dan beberapa agama lain. Pada tahun 2012, ia memperoleh penghargaan Toynbee-Talbutt dari Asosiasi Internasional Perbandingan Peradaban.

Kato mungkin sudah mapan dalam dunianya. Pengalaman berharga yang ia dapat dari tokoh-tokoh Muslim Indonesia, terutama Gus Dur, barangkali kini ia taruh di ruang tersendiri di dalam memorinya. Hisanori Kato menjadi peneliti Islam di Indonesia asal Jepang, selain Mitsuo Nakamura, yang kini telah memiliki ruang khusus di dunia akademisi Indonesia.

Melihat kenyataan bahwa Indonesia memiliki banyak agama, serta bertemu langsung dengan muslim fundamental hingga muslim liberal, Kato tak pernah merasa dibeda-bedakan di sana. Ia tetap merasakan kehangatan ketika bertemu dengan mereka. Barangkali Kato juga sadar, apa yang ia pelajari dari Gus Dur tentang toleransi dan kesetaraan antar umat beragama, merupakan sumber dari kehangatan tersebut. Islam yang menjadi agama dengan penganut mayoritas di Indonesia, tentunya memiliki peranan sentral dalam memberi suasana hangat tersebut. Tanpa toleransi, persaudaraaan dan kesetaraan, kerukunan antar umat beragama di Indonesia adalah nonsens.

Di Indonesia, Hisanori Kato telah merasakan sendiri apa yang pernah dikatakan Gus Dur sebagai “Islam yang ramah”, bukan “Islam yang marah”. Gagasan-gagasan Gus Dur kini terdengar masuk akal setelah ia merasakan langsung keramahan Islam di Indonesia. Melihat sepak terjang Kato belajar Islam dari Gus Dur dan keakrabannya dengan bapak bangsa itu, mungkin Kato tak hanya menjadikan Gus Dur sebagai seorang partner maupun sahabat. Siapa tahu, jika suatu hari Kato pernah memanggil Gus Dur dengan sebutan sensei. Dan dengan penuh apresiasi padanya, Kato lantas berucap:

Arigato, Gus Dur sensei!

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buku: Antara Isi dan Harga Diri